BERBAGI SUAMI: PILIHAN DERITA ATAU PINTU BAHAGIA?

Poligami bukan sekadar berbagi lelaki, tapi berbagi jiwa, sabar, dan hak yang tak boleh timpang. Jika dijalankan tanpa ilmu dan empati, ia menjadi luka yang dalam. Tapi bila dilandasi takwa, adil, dan keridhaan — ia bisa jadi jalan menuju syurga yang jarang dipilih.

Oleh: Shahibus Samahah Dato Dr. MAZA - Mufti Kearajaan Negeri Perlis - Arsip 12/2019



๐Ÿ’ Antara Nafsu, Keadilan, dan Realitas Poligami

Poligami. Satu kata, sejuta reaksi. Di telinga sebagian orang, ia terdengar sebagai ancaman—khususnya bagi kaum wanita. Namun di sisi lain, poligami juga dianggap sebagai solusi oleh sebagian kalangan yang berpijak pada syariat. Pertanyaannya, apakah poligami adalah sumber derita, atau justru pintu menuju bahagia?

Islam adalah agama yang membumikan solusi, bukan menciptakan konflik. Ia tidak mendewakan monogami, tapi juga tidak memaksa poligami. Ia menempatkan keadilan sebagai syarat utama, bukan keinginan atau “gatal” semata. Dalam Surah An-Nisฤ’ ayat 3, Allah ๏ทป berfirman:

ูَุฅِู†ْ ุฎِูْุชُู…ْ ุฃَู„َّุง ุชَุนْุฏِู„ُูˆุง ูَูˆَุงุญِุฏَุฉً
“Jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) satu saja.”

Namun bagaimana jika keadilan itu bukan hanya soal uang atau jadwal giliran, tapi juga soal emosi, jiwa, dan kemampuan batin? Maka tazkirah ini menjadi ruang tafakur yang jujur—tanpa menghakimi, tanpa menggampangkan—namun menyentuh sisi-sisi paling realistik dalam rumah tangga dan kehidupan sosial umat.

๐Ÿ’ก Dalam kajian ini, dibahas:

  • Poligami sebagai izin, bukan perintah

  • Kapan poligami menjadi solusi dan kapan ia menjadi kezaliman

  • Realita cinta, nafsu, dan kesenjangan usia atau status

  • Dampak psikologis pada istri pertama dan hak untuk bercerai

  • Tanggapan atas fitnah bahwa Islam adalah agama “bernafsu”

  • Fenomena wanita cemburu, namun juga wanita yang bersedia

  • Nikah Misyar, Fatimah dan Ali, dan pengorbanan Sayyidah Saudah radhiyallฤhu ‘anhฤ

Tazkirah ini bukan ceramah kosong. Ia adalah refleksi tajam dari pengalaman, dalil, dan pengamatan sosial—yang membuka ruang dialog antara syariat, realitas, dan tanggung jawab moral suami-istri dalam pernikahan.


๐Ÿ“š Ringkasan Faedah Utama: “Poligami: Derita atau Bahagia?”

1. Poligami adalah Izin Syariat, Bukan Perintah

  • Poligami diperbolehkan dalam Islam, tapi bukan kewajiban.

  • Sebagian ulama menganggapnya dianjurkan dalam kondisi tertentu, namun konsensus menyatakan syarat utamanya adalah keadilan.

2. Realita Keadilan dalam Poligami

  • Keadilan bukan hanya soal pembagian materi (nafkah, rumah, giliran), tapi juga soal emosi dan sikap batin.

  • Al-Qur’an mengingatkan:

    ูˆَู„َู† ุชَุณْุชَุทِูŠุนُูˆุง ุฃَู† ุชَุนْุฏِู„ُูˆุง ุจَูŠْู†َ ุงู„ู†ِّุณَุงุกِ ูˆَู„َูˆْ ุญَุฑَุตْุชُู…ْ
    “Kamu tidak akan mampu berlaku adil di antara istri-istri, meskipun kamu sangat ingin (melakukannya).” (QS. An-Nisฤ’: 129)

MEMBEDAH HAKIKAT JISIM: MENGUNGKAP DEBAT EPIK IBNU TAIMIYAH & AL-GHAZALI TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH

Seminar : Ibnu Taimiyah, Ulama Versatile (serba bisa dalam berbagai bidang keilmuan Islam dan kehidupan sosial politik) - Arsip 2017

Oleh:
Al-Ustaz Salman Ali
Pendakwah di Negeri Perlis & Qatar, Debate Coach at Qatar Foundation

PART 1 - PART 2 - PART 3

Apakah sifat-sifat Allah dapat diibaratkan sebagai "komposisi" seperti yang diklaim para filsuf? Benarkah konsep tauhid Islam dipertanyakan oleh para intelektual di masa lalu? Dan lebih jauh lagi, apakah tuduhan bahwa Ibn Taymiyyah seorang mujassimah benar adanya? Seminar ini akan membawa Anda ke dalam salah satu diskusi teologis paling mendalam dan kompleks dalam sejarah Islam, yang mengguncang dunia pemikiran antara dalil agama dan logika filsafat.

Debat Epik Ibn Taymiyyah dan Al-Ghazali

Ibn Taymiyyah dan Al-Ghazali, dua nama besar dalam khazanah keilmuan Islam, menghadapi gelombang pemikiran menyimpang yang mencoba mendistorsi akidah Islam. Di satu sisi, para filsuf menyatakan bahwa sifat-sifat Allah seperti "kalam" dan "jisim" adalah bagian dari komposisi yang membutuhkan pencipta. Di sisi lain, Ibn Taymiyyah dan Al-Ghazali dengan luar biasa menghancurkan klaim ini melalui dalil syar’i yang kokoh dan logika yang tak terbantahkan.

  • Ibn Taymiyyah: Dengan tajam, ia membedakan antara berbagai definisi jisim. Jika jisim dimaknai sebagai "sesuatu yang bisa dilihat," maka Allah bisa dilihat di akhirat, sesuai dalil Al-Qur’an dan hadits. Namun jika jisim dimaknai sebagai "komposisi dari elemen-elemen kecil," maka Allah bukan jisim. Tuduhan bahwa Ibn Taymiyyah seorang mujassimah ternyata lahir dari kesalahpahaman dan manipulasi definisi yang digunakan oleh lawan debatnya.

  • Al-Ghazali: Melalui Ihya Ulumuddin dan karya-karya lainnya, Al-Ghazali membuktikan bahwa penggunaan istilah seperti "komposisi" (terkib) untuk Allah bukan berarti menyalahi tauhid, asalkan definisi yang digunakan benar. Bahkan ia menyerang filsafat yang menolak sifat-sifat Allah, dengan menunjukkan inkonsistensi logika mereka.

JAHIL ATAU SESAT DENGAN SENGAJA? SAAT ILMU DITOLAK, DAN AKIDAH DIPERMAINKAN

Tidak semua orang sesat karena tak tahu. Sebagian memilih untuk sesat — dengan ilmu ditolak, dalil dihina, dan kebatilan dibela atas nama kebebasan. Inilah penyakit zaman yang lebih mematikan dari kebodohan.

Narasumber: Shahibus Samahah Dato Dr. MAZA - Mufti Kearajaan Negeri Perlis - Arsip 02/2021



๐Ÿ“˜ Ketika “Jahil” Bukan Sekadar Tak Tahu, Tapi Memilih Tersesat

๐Ÿงญ Dalam era informasi yang melimpah, anehnya kita menyaksikan semakin banyak orang yang berani bersuara tentang agama—tanpa ilmu, tanpa bimbingan, bahkan tanpa malu. Mereka membongkar-balik akidah, mempertanyakan keesaan Allah ๏ทป, menolak kerasulan Nabi Muhammad ๏ทบ, hingga mengolok-olok syariat. Anehnya lagi, sebagian dari mereka adalah orang terpelajar, memiliki pangkat, atau pernah berada di lingkungan akademik. Tapi mereka jatuh pada sebuah fenomena yang disebut oleh para ulama sebagai ุงู„ุถู„ุงู„ ุงู„ู…ُุฎุชุงุฑkesesatan yang dipilih.

๐Ÿ“Œ Sebagian kekeliruan lahir dari ketidaktahuan, itu bisa ditoleransi dan dibimbing. Tapi ketika kebodohan dibungkus dengan arogansi, dan kesesatan ditegakkan atas nama kebebasan berpikir, maka ini bukan sekadar jahil, tapi kekufuran yang disengaja.

Tazkirah ini membuka tabir berbagai pernyataan ekstrem yang menyimpang, seperti:

  • Menyebut bahwa Allah adalah nama berhala

  • Menyandingkan syahadat dengan nama-nama Nabi selain Muhammad ๏ทบ

  • Mengklaim bahwa Islam adalah agama etnik Melayu

  • Menyatakan bahwa Al-Qur’an bukan wahyu, tapi susunan manusia

  • Menuduh Hajarul Aswad sebagai objek kesyirikan umat Islam

  • Menolak poligami padahal ia dinyatakan dalam Al-Qur’an

  • Mengangkat ritual-ritual rekaan sebagai “ibadah yang lebih murni” dari syariat Islam

๐Ÿ”Ž Semua ini bukan sekadar perbedaan tafsir, tapi penghancuran dasar-dasar Islam yang paling mendasar: tauhid, kerasulan, dan wahyu.

๐Ÿ’ฅ Maka pertanyaannya: Apakah kita berhadapan dengan orang yang jahil? Ataukah dengan orang yang memilih untuk sesat?


๐Ÿ“š Ringkasan Faedah Utama Kajian: “Jahil atau Kesesatan Terpilih”

1. Definisi dan Bahaya Kesesatan

  • Kata "sesat" dalam Islam adalah istilah serius; disebut dalam Surah Al-Fฤtiแธฅah:

    ุบَูŠْุฑِ ูฑู„ْู…َุบْุถُูˆุจِ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ูˆَู„َุง ูฑู„ุถَّุขู„ِّูŠู†َ

  • Kesesatan berarti menyimpang dari akidah yang benar, dan memiliki tingkatan:

    • Ada yang sesat namun belum kufur (contoh: memahami kelebihan Ali secara berlebihan)

    • Ada yang sesat sekaligus kufur (contoh: menafikan kerasulan Nabi Muhammad ๏ทบ)

2. Syahadat: Kenapa Hanya Disebut Nama Nabi Muhammad ๏ทบ

  • Mengucapkan "Muhammadur Rasulullah" bukan mengingkari nabi lain, tapi mengakui pintu kebenaran seluruhnya datang lewat Nabi Muhammad ๏ทบ.

  • Menyatakan syahadat pada nabi-nabi lain tanpa pengakuan terhadap Rasulullah ๏ทบ adalah kekeliruan fatal.

BID'AH HASANAH, ISTILAH YANG DISALAHFAHAMI

Ketika Niat Baik Menjadi Dalih untuk Menyimpang: Membongkar Kekeliruan Makna ‘Bid‘ah Hasanah’ yang Menjerumuskan Umat ke Jurang Kesesatan Berbalut Ibadah

Penulis:
Shahibus Samahah Dato Dr. MAZA
Mufti Negeri Perlis


๐Ÿ“š “Bid‘ah Hasanah” – Jalan Lurus atau Jalan Menyesatkan? 

๐Ÿ” Pernahkah Anda bertanya-tanya, apakah semua bentuk ibadah yang “baik” itu otomatis benar dalam Islam? Apakah setiap hal baru dalam agama bisa disematkan label suci hanya karena tampak indah di mata manusia?

❗️Topik “Bid‘ah Hasanah” telah lama menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan umat Islam. Tidak sedikit yang menjadikannya justifikasi untuk melakukan berbagai amalan tambahan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah ๏ทบ dan para sahabat. Mereka berkata, "Ini bid‘ah yang baik! Kan niatnya baik!" Tapi... benarkah niat baik bisa menyucikan sesuatu yang tidak pernah diajarkan dalam syariat?

๐Ÿ›‘ E-book “Bid‘ah Hasanah: Istilah yang Disalah Fahami” membongkar secara ilmiah, lugas, dan tuntas betapa istilah “Bid‘ah Hasanah” seringkali disalahartikan, bahkan oleh para penceramah. Buku ini bukan sekadar menegur, tapi menguliti satu demi satu hujah-hujah yang dipakai untuk menjustifikasi bid‘ah, dengan menyandingkan langsung dengan penjelasan ulama mu’tabarah seperti Imam al-Syafi‘i, Imam al-Nawawi, hingga Imam al-Syatibi.

๐Ÿ’ก Ingin tahu kenapa Imam al-Nawawi menolak tradisi zikir keras berjamaah? Mengapa Imam al-Syafi‘i tidak setuju dengan perayaan tertentu dalam ibadah yang dianggap “bernilai spiritual”? Dan bagaimana Imam al-Syatibi memberikan definisi yang begitu tajam hingga menyempitkan ruang bagi justifikasi bid‘ah dalam urusan ibadah?

✨ Temukan jawabannya dalam pembahasan akademik nan renyah ini. Wajib dibaca oleh siapa pun yang mencintai kemurnian agama dan tidak ingin terjerumus ke dalam amalan yang tidak berdasar. Simak ringkasannya di bawah ini, dan pastikan Anda mendengarkan versi lengkap audio-nya—agar tidak menjadi pelaku bid‘ah tanpa sadar! ๐ŸŽง๐Ÿ“ฅ


๐Ÿ“˜ Ringkasan Lengkap Isi Buku: “Bid‘ah Hasanah – Istilah yang Disalah Fahami”

๐Ÿ”น Pendahuluan: Mengapa Perlu Membahas Bid‘ah?

  • Banyak amalan hari ini diberi label “bid‘ah hasanah” oleh sebagian pihak, padahal tidak memiliki dasar syar‘i.

  • Istilah ini sering dijadikan pembenaran untuk melakukan sesuatu dalam agama yang tidak dilakukan Nabi ๏ทบ atau para sahabat.

  • Buku ini berusaha menjelaskan makna bid‘ah secara ilmiah, berdasarkan pandangan ulama muktabar dari empat mazhab.


๐Ÿ”น Bab 1: Hakikat dan Definisi Bid‘ah

  1. Definisi Bahasa:

    • Bid‘ah berasal dari kata ุจَุฏَุนَ – bermakna menciptakan sesuatu tanpa contoh sebelumnya (seperti dalam QS. Al-Baqarah: 117).

  2. Definisi Syar‘i:

    • Menurut Imam al-Syatibi: “Bid‘ah adalah jalan dalam agama yang dibuat-buat menyerupai syariat, untuk berlebihan dalam beribadah.”

    • Tidak semua hal baru itu bid‘ah syar‘i. Hanya yang menyangkut urusan agama (ibadah) yang tanpa dalil, yang disebut bid‘ah.

  3. Contoh Non-Bid‘ah:

    • Pembukuan Al-Qur'an, pembangunan sekolah, mikrofon saat khutbah – ini hal baru, tapi dalam urusan duniawi, bukan ibadah mahdhah.


BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN SYEKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB SERTA PENGARUH DAKWAHNYA TERHADAP DUNIA ISLAM

Menguak jejak seorang ulama yang mengguncang dunia Islam dengan seruan kembali kepada tauhid murni — dipuja sebagai mujaddid, dikritik sebagai perusak tradisi. Siapkah kita memahami tanpa prasangka?


Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab
Akidah Salafiyahnya, Dakwah Reformisnya, dan Pujian Para Ulama terhadap Dirinya


Ditulis oleh:
Al-‘Allamah Syekh Ahmad bin Hajar Al-Ban‘ali (w.1423h/2002)
Hakim Pengadilan Syariah di Qatar

Diberi Kata Pengantar dan Ditashih oleh Samahatu Asy-Syaikh ‘Abd al-‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz. (w.1420h/1999) Mufti Agung Kerajaan Saudi Arabia 1993-1999, Ketua Haiah Kibar Ulama KSA (1992-1999), Ketua Lajnah Ad-Daimah Lil-Buhuts Wal-Ifta KSA (1975-1999), dan naskah ini diterima untuk dikoreksi oleh beliau rahimahullah ketika masih menjabat sebagai Rektor (Pimpinan) Universitas Islam Madinah (1970-1975)

๐Ÿ“– Pengantar 

Dalam sejarah Islam kontemporer, sedikit tokoh yang mengundang perdebatan sehebat sosok yang satu ini. Dihormati sebagai mujaddid, namun dicela sebagai pengacau; dikagumi sebagai pelopor tauhid murni, tetapi juga disalahpahami sebagai tokoh pemecah belah. Siapa sebenarnya Muhammad bin Abdul Wahhab? Apa yang beliau perjuangkan? Dan bagaimana gerakannya mampu mengubah lanskap keislaman di Jazirah Arab dan bahkan dunia?

Dokumen ini menyuguhkan sebuah narasi ilmiah sekaligus apologetik tentang sosok Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab, mengupas dari sisi akidah, pemikiran fiqh, sejarah perjuangan, hingga kontroversi yang menyertainya. Dengan pendekatan historis dan referensial, kita diajak menembus tabir prasangka dan masuk ke dalam esensi gerakan dakwah yang berpijak pada tauhid dan sunnah.

Apakah benar gerakan ini fanatik dan mengkafirkan umat Islam lainnya? Apakah dakwah beliau murni Islam atau justru sekadar produk politisasi? Dan apa yang membuat sebagian pihak melihatnya sebagai pelopor fundamentalisme, sementara lainnya menilainya sebagai penyelamat Islam dari syirik dan khurafat?

Simak ringkasan berikut, dan putuskan sendiri—dengan akal dan ilmu—bukan dengan emosi atau warisan prasangka ๐Ÿ•‹๐Ÿ“š


✍️ Ringkasan Isi Utama Dokumen

1. Latar Belakang dan Pendidikan

  • Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir di Najd dan tumbuh di tengah lingkungan ilmiah.

  • Ia belajar dari berbagai ulama besar, termasuk di Madinah, Basrah, hingga Hijaz.

  • Memiliki kompetensi tinggi dalam hadits, fiqh (terutama Hanbali), serta ilmu kalam dan tafsir.

2. Pokok Pemikiran dan Dakwah

  • Dakwah beliau berfokus pada pemurnian tauhid (tawhid al-uluhiyyah) dan pelurusan praktik keagamaan masyarakat yang tercemar oleh bid'ah, khurafat, dan taqlid buta.

  • Menyeru untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah serta meninggalkan praktek syirik seperti tawassul kepada orang mati, ziarah kubur yang berlebihan, dan pengkultusan wali.

  • Menolak filsafat spekulatif dan menolak ajaran tasawuf yang melampaui batas syariat.

TALIBAN DAN AMANAH PERADABAN ISLAM

Saat jihad tak lagi di medan tempur, tapi di meja kekuasaan dan tanggung jawab | Refleksi 3 Tahun Hengkangnya Penjajah Amerika dari bumi umat Islam Afghanistan

Oleh: Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA - Mufti Kerajaan Negeri Perlis - Arsip 08/2024



๐ŸŽ™️Jihad Tak Cukup dengan Senjata. Membangun Negara Itu Jihad yang Lebih Berat

Nama Afghanistan kerap disebut dengan nada getir: perang tiada henti, krisis, Taliban, dan citra keagamaan yang penuh kontroversi. Dunia terlalu cepat menilai, terlalu lambat memahami. Tapi… berapa banyak yang benar-benar berani bicara langsung kepada para pemegang tampuk kuasa di sana—bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengingatkan?

Di hadapan para pemimpin dan duta dari negara-negara Islam, sebuah suara dari dunia luar menyuarakan hal yang selama ini hanya dibisikkan dalam hati umat:

Jihad bukan lagi tentang menumpahkan darah, tapi tentang menegakkan keadilan dan membangun kehidupan.

Pidato ini—disampaikan dengan bahasa lugas, adab, dan ketegasan—bukan sekadar formalitas diplomatik. Ia adalah pengingat, bahwa umat Islam global sedang menunggu bukti, bukan janji. Menunggu apakah mereka yang mengatasnamakan agama bisa membuktikan bahwa agama bukan hanya bisa memberontak, tapi juga bisa memimpin dan memakmurkan.

๐Ÿ“Œ Jika para pemimpin beragama gagal membangun negara dengan adil dan amanah,
maka musuh-musuh Islam akan bersorak,

“Tuh kan, memang mereka gak mampu…”

Tapi jika berhasil—itu akan menjadi tamparan paling telak untuk narasi-narasi busuk yang selama ini mengecilkan agama sebagai solusi.

๐ŸŽฏ Pertempuran hari ini tak lagi di parit dan padang pasir.
Pertempuran hari ini ada di ruang kabinet, di sekolah, di pasar, di pengadilan, dan di meja kekuasaan.

๐ŸŽง Dengarkan dan resapi. Karena ini bukan sekadar pidato. Ini adalah suara nurani yang membawa harapan dan sekaligus ujian untuk masa depan dunia Islam.


✍️ Ringkasan Faedah Lengkap:

1️⃣ Afghanistan Masih Punya “Urat Hidup” Dunia Islam

  • Meski dari jauh, semangat rakyat Afghanistan terlihat masih hidup dan membara.

  • Sebuah bangsa yang terus menulis sejarahnya sendiri dengan kebanggaan dan air mata.

  • Referensi terhadap tokoh Islam masa lalu seperti Syakib Arsalan menunjukkan bahwa dunia Islam pernah menaruh harapan besar pada Afghanistan—dan masih melakukannya hari ini.

๐Ÿ’ฌ “Kalian telah menulis sejarah kalian sendiri dengan kebanggaan.”


2️⃣ Membangun Lebih Berat daripada Berjuang

  • Perjuangan fisik melawan penjajah itu berat. Tapi membangun bangsa setelah perang jauh lebih sulit.

  • Kini mereka yang dulu menggenggam senjata, harus menggenggam amanah — untuk membangun negeri, menyejahterakan rakyat, dan menghadirkan keadilan.

⚠️ “Perjalanan membina jauh lebih susah dari perjalanan melawan.”


FATWA DAN TANGGUNG JAWAB ILMIAH: ANTARA DALIL, MAZHAB, DAN AMANAH

Di balik selembar fatwa ada beban ilmu, integritas, dan nyawa. Inilah tanggung jawab besar para ulama dalam menyuarakan hukum Tuhan Alam Semesta di tengah zaman yang tak ramah pada kebenaran | Beban berat seorang mufti dan bahayanya fatwa tanpa ilmu (teks dan konteks) di tengah masyarakat modern.

Simposium Pemberdayaan Lembaga Fatwa, Panelis : Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA - Mufti Kerajaan Negeri Perlis - Arsip 09/2020



๐ŸŒŸ Fatwa, Bukan Sekadar Hukum—Tapi Tanda Tangan Atas Nama Tuhan Alam Semesta

Kita hidup di zaman yang serba cepat, tapi sayangnya tak semua orang cepat memahami satu hal penting: agama itu bukan soal ikut-ikutan. Termasuk ketika bicara soal fatwa.

Banyak orang kira fatwa itu cuma produk "ustaz-ustaz", atau kerja birokrasi agama yang sibuk berdebat hal sepele. Tapi, bagaimana kalau kami bilang: fatwa itu adalah 'tanda tangan' mewakili Tuhan Alam Semesta? Kedengaran berat? Memang. Karena memang tak semua orang layak bicara atas nama Tuhan, walau di mikrofon sekalipun.

Dalam forum ini, Shahibus Samahah Mufti Negeri Perlis Prof. Dr. MAZA menyampaikan sesuatu yang tak sekadar dalam — tapi juga menusuk akal dan mengguncang persepsi lama tentang dunia fatwa, fiqh, dan peranan institusi keagamaan di zaman modern.

Beliau mengupas:

  • Bahaya fatwa yang sembrono,

  • Beban berat seorang mufti,

  • Ketegangan antara kebenaran ilahi dan tekanan politik,

  • Sampai pentingnya keterbukaan mazhab dalam masyarakat yang makin cerdas dan global.

Dan ya, ini bukan kuliah yang akan buatmu ngantuk. Ini semacam reality check buat semua yang masih mengira agama hanya soal mazhab dan "mana pendapat yang paling keras".

Jadi sebelum kamu bilang "itu salah" atau "ini sesat", mungkin sudah waktunya kamu dengar dulu penjelasan yang lebih dalam dari sekadar potongan TikTok dan cuplikan YouTube.

๐Ÿ“Œ Simak dan renungkan. Karena kadang, yang kita anggap kaku ternyata justru sedang meminta ruang untuk bernafas.


✍️ Ringkasan Faedah Lengkap

1️⃣ Fatwa = Menyatakan Hukum Tuhan, Bukan Pendapat Pribadi

  • Mufti bukan sekadar jabatan — ia adalah penyambung pesan Tuhan kepada umat.

  • Berdasarkan karya Imam Ibn Qayyim dalam A'lam Al-Muwaqqi'in, seorang pemberi fatwa dianggap seperti menandatangani atas nama Allah.

  • Maka siapa yang berani mengeluarkan fatwa dengan sembrono, berarti berani menyalahgunakan nama Tuhan.


2️⃣ Salah Fatwa Bisa Membunuh

  • Dibawakan contoh hadis terkenal: seorang sahabat mati karena mengikuti fatwa keliru dari teman-temannya.

  • Nabi ๏ทบ berkata: "Mereka telah membunuhnya. Semoga Allah membinasakan mereka."

  • ๐Ÿ’ฅ Faedah: Fatwa yang tidak memahami realitas bisa jadi alat pembunuhan, walau niatnya baik.


IBNU TAYMIYYAH DALAM LINTASAN SEJARAH: ULAMA, MUJAHID, DAN PEMBAHARU PEMIKIRAN ISLAM

Analisis kontekstual terhadap perjuangan memurnikan akidah di tengah invasi Mongol dan konflik politik internal - Wacana Fikrah Ummah 2016 oleh Kementerian Pendidikan Malaysia dan Dewan Bahasa & Pustaka , di Aula Kuliah DBP pada hari Selasa 27 September 2016.

Ahli Panel:
Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA
Mufti Kerajaan Negeri Perlis

๐Ÿš€ Kalau hari ini kamu dengar kata “Ibn Taymiyyah”, apa yang muncul di kepala?

Ekstremis? Garang? Panutan ISIS? Atau malah — siapa dia?

Realitanya, banyak orang (bahkan sebagian Muslim) tak pernah benar-benar kenal siapa Ibn Taymiyyah, kecuali dari potongan video murahan, artikel bias, atau komentar orang yang sendiri tak paham konteks sejarah.

Padahal, kalau mau fair, Ibnu Taymiyyah ini bukan cuma ulama besar — dia ikon pemikiran reformis Islam, yang sepanjang hidupnya dicaci, dimusuhi, dipenjara, tapi setelah wafat, jutaan orang datang menyalatkan jenazahnya, termasuk orang-orang yang dulu diam-diam simpati padanya.

Kenapa dia dibenci? Karena dia berani mengganggu zona nyaman orang agama & politik.
Dia tak takut menegur penguasa yang zalim, tak segan membongkar kesyirikan & bid’ah kaum Sufi berlebihan, bahkan menulis buku melawan Syiah & Kristen di zamannya — sampai para penentangnya kompak menyingkirkan dia ke penjara.

Tapi hebatnya, dia sendiri berkata,

“Apa yang musuh-musuhku bisa lakukan padaku? Surga & tamanku ada di dalam dadaku. Penjarakan aku, itu khalwatku. Bunuh aku, itu syahidku. Buang aku, itu safarku.”

Dan yang lebih keren lagi, dia sempat berkata,

“Aku telah maafkan semua orang yang menyakitiku karena perjuanganku mengeluarkan mereka dari neraka, bukan memasukkan mereka ke neraka — kecuali mereka yang memusuhi Allah & Rasul-Nya.”

Isu ini sensitif. Banyak yang salah kutip dia lalu menuduhnya sumber terorisme modern. Padahal sudah 700 tahun lebih karyanya dibaca orang tanpa jadi radikal. Yang keliru justru membaca ucapan perang Ibn Taymiyyah di zaman Mongol, lalu dipotong seenaknya, tanpa sadar dia hidup dalam suasana gempuran tentara kafir yang ingin musnahkan Islam dari muka bumi.

Kalau kamu serius mau tahu bagaimana perjuangan dan pemikiran Ibn Taymiyyah untuk memurnikan Islam, simak ringkasan ini baik-baik. Biar nanti kamu bisa bedakan sendiri, mana fakta, mana fitnah.


✍️ Ringkasan poin-poin utama


๐Ÿ“š Konteks awal diskusi

  • Dunia ilmu sering terganggu saat bicara dua hal:
    ๐Ÿ”ธ Politik (karena mengusik kuasa)
    ๐Ÿ”ธ Agama (karena mengusik pengaruh & “periuk nasi” golongan agama)

  • Contoh: Martin Luther di Eropa, saat menentang Gereja Katolik sampai perang saudara pecah.


๐Ÿ”ฅ Kenapa tokoh reformasi sering dimusuhi?

  • Siapapun yang mencoba reformasi keilmuan & agama akan hadapi perlawanan keras.

  • Termasuk: Syih al-Hadid, Hamka, Mustafa Abdul Rahman — semua dimusuhi ketika hidup.

  • Sama persis yang terjadi pada Ibn Taymiyyah.


MENGUBAH KEMUNGKARAN, ANTARA ILMU DAN EMOSI

Panelis : Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA - Mufti Kerajaan Negeri Perlis - Seminar Fiqh Taghyir Al-Munkar, Dewan Muktamar Pusat Islam Kuala Lumpur, Arsip Januari 2019

๐Ÿš€ Kita ini umat yang katanya paling peduli amar ma’ruf nahi mungkar. Tapi sayangnya, banyak yang kerasnya cuma di medsos, galaknya cuma di majlis, tapi keliru cara menegur, dan asal hantam tanpa ilmu.

Hari ini, kita hidup di zaman fitnah cepat viral, di mana aib orang lari lebih kencang dari berita kebaikan. Zaman orang lebih sibuk buka dosa pribadi, padahal agamanya sendiri tak selesai. Zaman orang lebih semangat berteriak “mungkar! kafir! sesat!” — tapi lupa tanya, ini benar-benar mungkar yang wajib dicegah, atau cuma masalah khilafiyah yang sebenarnya tak perlu diributkan?

Dalam pembentangan ini, dibongkar telanjang bagaimana:

  • Ada yang terlalu cuai, melihat mungkar tapi diam saja, malah jadi biasa.

  • Ada pula yang berlebihan, asal lihat beda langsung bilang sesat, kafir, neraka.
    Padahal dalam sejarah Islam, bahkan Nabi sendiri penuh kelembutan, timbang maslahat, tidak asal potong kepala orang yang khilaf.

Keras tanpa ilmu itu bukan ketegasan, tapi kebodohan yang dibungkus dalil setengah-setengah. Dan lebih bahaya, itu merusak wajah Islam — yang akhirnya bikin orang lari dari kita.

Maka topik ini super sensitif, tapi justru wajib dibahas dengan lugas.
Bukan untuk melemahkan semangat mencegah mungkar, tapi supaya tepat sasaran, tidak asal gebuk, dan tidak bikin umat tambah bodoh.


✍️ Ringkasan Poin-Poin Utama


๐Ÿ•Œ Apa Itu Amar Ma’ruf Nahi Mungkar?

  • Dalam Islam, mencegah mungkar (kemungkaran) itu kewajiban, semua orang Islam tahu dalilnya dari kecil.

  • Tapi seperti ibadah lain, ia ada disiplin & batas — tidak boleh dilakukan seenaknya.


⚖️ Dua Jenis Kesalahan Besar Dalam Nahi Mungkar

1️⃣ Tafrit (cuai / lalai)

  • Diam saja lihat mungkar.

  • Duduk nyaman di majlis dosa.

  • Lama-lama hati tak sensitif, malah anggap biasa.

  • Allah pernah laknat Bani Israel karena tak melarang perbuatan mungkar.

2️⃣ Ifraแนญ (melampau / berlebihan)

  • Terlalu keras cegah mungkar sampai menimbulkan kemungkaran lain.

  • Buka aib pribadi, menghukum tanpa ilmu, mengintip rumah orang, membuat masyarakat takut & benci agama.


ISLAM BUKAN MILIK BANGSA TERTENTU: DIALOG BERANI MEMBONGKAR SALAH FAHAM

Arsip Juli 2025, Podcast - Non-Muslim Bertanya, Mufti Perlis Menjawab

Panelis :
Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA
Mufti Kerajaan Negeri Perlis


Kita hidup di negara yang katanya damai, tapi diam-diam penuh salah paham, penuh tembok tak terlihat antara Muslim dan non-Muslim. Kenapa? Karena terlalu lama kita cuma dengar “katanya-katanya”. Katanya Islam itu keras. Katanya undang-undang syariah bikin ngeri. Katanya Islam cuma untuk orang Melayu. Katanya Islam tak cocok sama zaman modern. Padahal siapa yang bilang? Dari mana sumbernya?

Podcast ini “Non-Muslim Bertanya, Mufti Perlis Menjawab” seakan jadi tamparan halus tapi kena banget. Di sini Mufti Perlis, Prof Dato’ Dr. Maza, buka satu-satu mitos, bias dan salah faham — bukan pakai retorik politik, tapi pakai akal & dalil.

Beliau tak segan menegur keras kelompok yang suka mainkan isu agama demi kuasa. Beliau juga berani bilang: “Islam bukan agama Melayu. Islam bukan hak eksklusif siapa-siapa. Ini agama Tuhan, untuk semua manusia.”

Kalau ada non-Muslim takut pada Islam, itu salah siapa?
๐Ÿ‘‰ Salah Muslim yang menampilkan Islam dengan cara salah.
๐Ÿ‘‰ Salah politikus yang suka goreng isu demi kursi.
๐Ÿ‘‰ Salah kita sendiri yang malas belajar langsung ke sumber aslinya — Al-Qur’an & Sunnah — tapi sibuk dengar ceramah forwarding grup WhatsApp.

Isu ini sensitif. Tapi justru karena sensitif, kita wajib kupas tuntas — pelan tapi pasti, tegas tapi santun. Supaya pada akhirnya, kita sama-sama sadar bahwa keadilan & ihsan (berbuat baik melebihi sekadar adil) adalah intisari Islam. Bukan gimik, bukan politik, bukan dongeng menakutkan.


✍️ Ringkasan Poin-Poin Utama


๐Ÿ’ฌ Pertanyaan Utama: Salah Faham Terhadap Islam

  • Malaysia negara unik, multi-etnik & multi-agama, tapi sering muncul rasa curiga.

  • Ditanya: apa salah faham terbesar non-Muslim terhadap Islam?

  • Dato’ jawab:

    • Salah faham muncul karena dua hal:
      1️⃣ Info memang salah atau dibesar-besarkan, atau
      2️⃣ Info benar tapi sengaja dipolitisasi supaya timbul rasa takut & benci.


⚔️ Politik & Ketegangan

  • Banyak politik kuasa memanfaatkan isu agama supaya dapat sokongan.

  • Ini bukan cuma terjadi antara Muslim & non-Muslim, bahkan dalam agama sendiri (contoh Protestan vs Katolik dulu sampai bunuh-bunuhan).