IBNU TAIMIYAH & SENI DEBAT: STRATEGI, DALIL DAN KETEGASAN DALAM MEMBELA KEBENARAN

Seminar : Ibnu Taimiyah, Ulama Versatile (serba bisa dalam berbagai bidang keilmuan Islam dan kehidupan sosial politik) - Arsip 2017

Oleh:
Al-Ustaz Salman Ali
Pendakwah di Negeri Perlis & Qatar, Debate Coach at Qatar Foundation

PART 1 - PART 2 - PART 3

Apa hukum debat dalam Islam? Apakah debat adalah sesuatu yang diperbolehkan, disarankan, atau justru dilarang? Pertanyaan ini sebenarnya bukan hal baru, sebab sejak zaman para sahabat, debat telah menjadi perhatian serius. Kita tahu bahwa ada sahabat seperti Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang tidak menyukai debat, namun di sisi lain, ada juga sahabat seperti Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang dikenal sebagai pendebat ulung.

Di kalangan ulama empat mazhab, perbedaan pendekatan terhadap debat juga sangat mencolok. Imam Malik rahimahullah, misalnya, lebih memilih untuk menghindari debat dan berfokus pada penyampaian ilmu tanpa banyak adu argumen. Sementara itu, Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah dikenal sebagai pendebat yang brilian, ahli dalam menyampaikan hujah dan memenangkan argumen dengan dalil yang tajam.

Namun, jika berbicara tentang seni debat yang strategis, dalil yang tajam, serta kemampuan mengguncang argumen lawan hingga tak bersisa, maka nama Syekhul Islam Ibnu Taimiyah menjadi salah satu yang paling menonjol dalam sejarah Islam. Beliau bukan hanya seorang ulama besar, tetapi juga pendebat yang menguasai medan diskusi dengan ketegasan dan kecerdasan yang sulit dilampaui.

Debat Menurut Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah mendefinisikan ulang bagaimana debat seharusnya dilakukan. Beliau membagi para pendebat menjadi tiga kelompok:

  1. Al-‘Alim bil-Haqq (mereka yang mengetahui kebenaran),
  2. Thalib al-Haqq (mereka yang mencari kebenaran), dan
  3. Ghayr ‘Alim wa La Thalib (mereka yang tidak tahu kebenaran dan tidak ingin mencarinya).

Menurut Ibnu Taimiyah, hanya dua kelompok pertama yang layak untuk masuk ke medan debat. Kelompok ketiga, yang tidak tahu kebenaran dan tidak mau mencarinya, sebaiknya tidak diajak berdebat karena hanya akan membuang waktu.

Debat adalah alat yang mulia jika digunakan dengan tujuan yang benar. Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa debat diperbolehkan, bahkan wajib, dalam dua situasi:

  • Pertama, ketika digunakan untuk menyampaikan kebenaran kepada orang yang tersesat.
  • Kedua, ketika digunakan untuk mendiamkan orang-orang jahat yang menyebarkan kemungkaran atau pemikiran sesat.

Ibnu Taimiyah di Medan Debat

Dalam sejarah Islam, Ibnu Taimiyah dikenal karena keberaniannya menghadapi berbagai kelompok yang menentang akidah dan syariat Islam. Nasrani, Wahdatul Wujud, Syiah, penyembah kubur, hingga para filsuf adalah sebagian dari kelompok yang pernah beliau hadapi. Dalam semua perdebatan itu, Ibnu Taimiyah bukan hanya mengandalkan hafalan dalil, tetapi juga menggunakan logika yang tajam, retorika yang memukau, serta strategi yang cermat.

Ketika berdebat dengan kaum Nasrani, beliau membantah klaim ketuhanan Nabi Isa dengan dalil Al-Qur'an dan Injil. Saat menghadapi penganut Wahdatul Wujud yang menganggap Allah bersatu dengan makhluk-Nya, Ibnu Taimiyah menghancurkan argumen mereka dengan logika dan dalil bahwa Allah berbeda dan tidak menyerupai makhluk-Nya. Dalam berhadapan dengan Syiah yang mengklaim keharusan adanya imam maksum, beliau menggunakan dalil akal dan nas untuk mematahkan argumen mereka, bahkan menunjukkan kontradiksi logis dalam klaim mereka.

Kehebatan Strategi Ibnu Taimiyah

Keberhasilan Ibnu Taimiyah di medan debat tidak hanya terletak pada dalilnya yang tajam, tetapi juga pada strateginya yang luar biasa. Beliau mampu:

  1. Menguasai Dalil dengan Hafalan yang Luar Biasa
    Ibnu Taimiyah diibaratkan seperti memiliki Al-Qur’an dan hadits di ujung lidahnya. Beliau bisa dengan cepat mengutip ayat dan hadits untuk setiap argumen yang muncul.
  2. Menyusun Strategi Hujah yang Matang
    Beliau memahami kapan harus menyerang dan kapan harus bertahan dalam diskusi. Bahkan dalam beberapa debat melawan atheis, Ibnu Taimiyah mampu menghimpun kesepakatan antara umat Islam, Yahudi, dan Nasrani untuk bersama-sama membantah pemikiran atheisme.
  3. Politik Hujah
    Ibnu Taimiyah memiliki seni politik hujah yang unik. Beliau tidak melawan semua kelompok dalam satu waktu. Misalnya, ketika menghadapi para filsuf, beliau menghimpun kekuatan antara Ahli Sunnah, Asy’ariyah, dan Mu’tazilah untuk membantah filsafat yang menyimpang.
  4. Menggunakan Logika dan Akal dengan Dalil yang Seimbang
    Ibnu Taimiyah tidak hanya bergantung pada dalil wahyu, tetapi juga membangun argumen logis yang bisa diterima oleh akal.

Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Dari Ibnu Taimiyah, kita belajar bahwa debat dalam Islam bukanlah sekadar adu mulut. Ia adalah seni untuk membela kebenaran dengan hikmah, strategi, dan ketajaman ilmu. Debat tidak boleh dilakukan untuk mencari menang-menangan, tetapi harus ditujukan untuk menyampaikan kebenaran atau menutup pintu kebatilan.

Dalam seminar ini, kita akan mempelajari secara rinci:

  • Kapan debat diperbolehkan, dan kapan harus dihindari.
  • Strategi debat Ibnu Taimiyah yang melampaui zamannya.
  • Contoh-contoh perdebatan Ibnu Taimiyah melawan berbagai kelompok, mulai dari Nasrani hingga filsuf.
  • Bagaimana kita bisa mengaplikasikan ilmu debat ini dalam menghadapi tantangan dakwah di era modern.

Jangan lewatkan! Mari kita gali bersama pelajaran besar dari seorang ulama yang berdiri teguh membela kebenaran, Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, sang pendebat ulung yang namanya tetap menggema hingga hari ini.