KELUASAN FIQH KENEGARAAN: ANTARA TEKS, KONTEKS, DAN KEBIJAKSANAAN

Syariat Islam bukanlah kerangka sempit yang membelenggu akal, melainkan jalan luas yang menuntun kepada keadilan, rahmat, dan maslahat. Ketika fiqh kenegaraan dipersempit hanya pada literal teks, lahirlah kejumudan; ketika ia dipaksa tunduk pada tafsir maqasid yang liar, lahirlah penyimpangan. Jalan tengah wasatiyyah adalah kunci keseimbangan, agar Islam tetap relevan menjawab cabaran zaman.

Ahli panel: Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA - Mufti Kerajaan Negeri Perlis


Pengantar

Perbahasan tentang fiqh kenegaraan selalu menyingkap pertembungan antara teks dan realiti. Islam tidak pernah memberi kema‘suman kepada sesiapa selepas Rasulullah ﷺ; tokoh sehebat mana pun tetap manusia biasa yang ada jasa besar, namun tetap mungkin melakukan kesilapan. Kerana itu, perbincangan tentang fiqh kenegaraan tidak boleh jumud, tetapi juga tidak boleh bebas tanpa batas. Prinsip besar yang diangkat oleh Ibn Qayyim—bahawa syariah adalah keadilan, rahmat, hikmah, dan maslahat—memberi garis panduan bahawa segala hukum yang menyimpang dari nilai-nilai itu, meskipun dinamakan syariah, hakikatnya bukanlah syariah.

FIQH MA'ALAT: ILMU TENTANG AKIBAT YANG WAJIB DIPAHAMI PEMIMPIN

Oleh: Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA - Mufti Kerajaan Negeri Perlis

Pernahkah Anda berada di posisi sulit: Keputusan Anda benar, tapi tidak dipahami orang-orang terdekat?

Bahkan orang sehebat Umar bin Khattab pun pernah protes keras pada keputusan Nabi Muhammad SAW. Ia merasa keputusan itu menghinakan umat Islam. Ia bertanya, "Bukankah kita di pihak yang benar? Mengapa kita harus terima syarat yang berat sebelah begini?"

Tapi jawaban Nabi singkat: "Aku ini utusan Allah. Aku tidak akan melawan perintah-Nya."

Lalu apa yang terjadi kemudian? Apakah Nabi salah? Atau justru ada kejutan besar yang tidak terduga?

Jawabannya ada di dalam Fiqh Ma'alat —ilmu tentang melihat AKIBAT dari setiap tindakan, bukan sekadar tindakan itu sendiri.


MEMBANGUN KEMULIAAN UMAT

Khutbah Aidil Fitri 2026
 
Oleh: Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA - Mufti Kerajaan Negeri Perlis 

Pernahkah Anda merasa heran? Umat Islam jumlahnya miliaran. Masjid di mana-mana. Pengajian di mana-mana. Tapi mengapa kita sering terlihat lemah? Mengapa saudara-saudara kita di Palestina, di berbagai penjuru dunia, harus berjuang sendirian? Mengapa umat ini mudah dipecah belah, diadu domba, dan direndahkan?

Rasulullah SAW sudah menjawab pertanyaan ini 1.400 tahun yang lalu.

ISLAM MENGIMBANGI ANTARA SYARIAH DAN ADAT

Seminar Penerangan Isu-isu Fatwa Negeri Perlis dan Majlis Ilmuwan Nusantara (Malaysia, Indonesia, Thailand, Kamboja dll), Tarikh 2025
 
Panelis: Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA - Mufti Kerajaan Negeri Perlis - Arsip 10/2025.

Adat dan budaya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Ia membentuk identitas suatu kaum, melahirkan bahasa, seni, pakaian, dan cara hidup yang khas. Namun di sisi lain, syariah Islam hadir sebagai panduan ilahi yang memayungi seluruh dimensi hidup manusia, dari akidah, ibadah, hingga akhlak.

Sering muncul pertanyaan: bagaimana posisi adat di hadapan syariah? Apakah adat mesti ditolak mentah-mentah karena dianggap “bukan Islam”, atau justru bisa diterima sepenuhnya?

Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Islam mengajarkan keseimbangan: adat boleh dipelihara selama selaras dengan syariah, adat harus ditolak bila bertentangan dengan akidah dan hukum Allah, dan adat yang bercampur dengan unsur batil perlu dimurnikan. Kaidah fiqh klasik bahkan menegaskan, “al-‘ādah muḥakkamah” – adat dapat menjadi dasar hukum, asalkan tidak menyalahi syariat.

Inilah keindahan Islam: ia tidak menafikan realitas sosial, melainkan menempatkannya dalam kerangka wahyu. Sebagaimana Al-Qur’an menyebutkan:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. al-Ḥujurāt: 13)

Melalui pandangan ini, jelaslah bahwa Islam tidak anti-budaya. Ia hadir untuk memandu umat manusia agar menghargai tradisi yang baik, meninggalkan tradisi yang menyesatkan, dan memperbaiki tradisi yang bercampur antara kebaikan dan keburukan. Dengan cara inilah, syariah dan adat berjalan seiring, membentuk wajah Islam yang penuh rahmat, relevan, dan bijaksana dalam kehidupan Nusantara maupun dunia.

BELAJAR IKHLAS DAN ITTIBA' DARI CARA NABI DAN SAHABAT MENGHADAPI KEMATIAN ORANG TERCINTA

Soalan tentang bid'ah hasanah dan amalan kenduri arwah 3, 7, 40 hari dst
 
Q & A bersama : Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA - Mufti Kerajaan Negeri Perlis


Pernahkah pertanyaan itu terlintas: Saat kita bersusah payah mengurus kenduri hari ke-7, sambil mungkin merasa terbebani secara materi dan tenaga, ada suara kecil bertanya, 'Untuk semua ini, apakah almarhum benar-benar terbantu?' Pertanyaan yang lebih dalam lagi adalah, "Jika ritual ini begitu utama, mengapa Nabi ﷺ yang begitu mencintai sahabatnya tidak pernah melakukannya? Apakah kita lebih sayang dari Beliau?" 

Mari kita renungkan bersama jawaban jujur dari pertanyaan-pertanyaan berat ini. Tadzkirah ini adalah sebuah intropeksi, bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mengembalikan segala bentuk ibadah kita pada tuntunan yang paling murni.

Berikut rangkumannya:

KIAT ISLAMI MENGHADAPI PERUBAHAN DAN KRITIK

Dialog interaktif dengan masyarakat muslim dan non-muslim (umum)

Oleh: Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA - Mufti Kearajaan Negeri Perlis - Arsip 2018


Di dunia yang semakin terhubung, kritik dan pemikiran lain tentang Islam tak bisa lagi dibendung dengan larangan. Lalu, apa solusinya? Dialog interaktif ini mengupas tuntas strategi Islami berdasarkan kajian mendalam untuk menghadapi era ini. Mulai dari membedakan politik agama dan etika, hingga pentingnya dialog terbuka dan membangun argumentasi yang kuat. Temukan cara menjadi muslim yang percaya diri dan elegan di zaman now.

Berikut rangkumannya:

LEGASI CINTA RASUL: WARISAN ABADI NABI MUHAMMAD ﷺ UNTUK UMAT

Oleh: Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA - Mufti Kearajaan Negeri Perlis - Arsip 09/2025

Kematian seorang pemimpin besar biasanya menandakan berakhirnya sebuah perjuangan. Namun, ketika Rasulullah ﷺ wafat pada 12 Rabi‘ul Awwal, justru dari peristiwa itu lahirlah kebangkitan yang lebih besar. Abu Bakr al-Ṣiddīq r.a. mengingatkan para sahabat dengan ayat Al-Qur’an, bahwa Nabi hanyalah Rasul, sementara agama ini adalah milik Allah ﷻ yang hidup dan tidak pernah mati.


Dalam sebuah tadzkirah berjudul “Legasi Cinta Rasul”, Prof. Dato’ Dr. MAZA menguraikan:

  • Bagaimana fitrah manusia selalu mencari Tuhan, dan hanya wahyu yang dapat menuntun pencarian itu.

  • Perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ, dari penentangan di Mekah, hijrah ke Madinah, hingga penaklukan Mekah yang penuh dengan pemaafan.

  • Legasi besar Nabi ﷺ berupa Al-Qur’an dan Sunnah, yang menjadi panduan umat hingga akhir zaman.

  • Kecintaan sahabat yang luar biasa, mencintai Nabi ﷺ lebih dari diri mereka sendiri.

  • Relevansi ajaran dan teladan Rasulullah ﷺ dalam menghadapi cabaran umat Islam modern: kepemimpinan, keluarga, perjuangan, dan akhlak.

Di akhir tadzkirah, Prof. MAZA menegaskan bahwa cinta sejati kepada Rasulullah ﷺ bukanlah slogan atau sekadar perayaan, melainkan ketaatan penuh terhadap ajaran beliau. Inilah cinta yang akan menjadi cahaya dalam hidup dan penyelamat di akhirat.

🌸 Tadzkirah ini bukan sekadar mengenang, tetapi ajakan untuk menghidupkan cinta Rasul dalam kehidupan sehari-hari, agar warisan beliau tetap menyala dalam hati setiap Muslim.

Berikut rangkumannya:

ADAB IKHTILAF: SENI BERBEDA PENDAPAT DALAM ISLAM TANPA MELUKAI UKHUWAH

Seminar ilmu bedah buku Adab Ikhtilaf dalam Islam untuk pelajar muslim dan sebagian non-muslim

Panelis: Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA - Mufti Kearajaan Negeri Perlis - Arsip 09/2025

Perbedaan pendapat (ikhtilaf) adalah fitrah yang tak terelakkan dalam kehidupan manusia, termasuk dalam agama. Namun, bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi perbedaan agar ia menjadi rahmat, bukan fitnah?



Kuliah ini tidak hanya relevan bagi pelajar ilmu agama, tetapi juga bagi semua umat Islam yang ingin memahami bagaimana mengelola perbedaan pandangan dengan hikmah. Dari contoh sahabat Nabi ﷺ yang berbeda dalam memahami perintah hingga peringatan terhadap bahaya eksploitasi agama oleh pihak yang tidak amanah, Prof. MAZA menegaskan: agama harus mendekatkan kita kepada Allah, bukan memecah belah umat.

🌿 Mari menyelami inti pesan kuliah ini: bagaimana ikhtilaf menjadi jalan menuju keluasan ilmu dan kedewasaan iman.

Berikut rangkumannya:

12 RABI‘UL AWWAL: HARI TERBESAR UMAT ISLAM KEHILANGAN RASULULLAH ﷺ

Oleh: Shahibus Samahah Dato Prof. Dr. MAZA - Mufti Kerajaan Negeri Perlis

Hari itu, Madinah berubah sunyi.
Langit seakan meredup, hati-hati sahabat hancur, dan bumi terasa kehilangan cahayanya. Tanggal 12 Rabi‘ul Awwal bukan hanya hari lahir Nabi Muhammad ﷺ, tetapi juga hari paling pilu: hari wafatnya sang kekasih Allah, penutup para nabi, rahmat bagi seluruh alam.


Para sahabat terpukul — ‘Umar bin Khattab menolak percaya hingga menghunus pedang, ‘Utsman bin ‘Affan terdiam bisu, dan seluruh Madinah terhuyung dalam kesedihan. Namun Abu Bakar ash-Shiddiq berdiri tegak, menenangkan umat dengan kalimat yang menggetarkan jiwa:

"Barang siapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Tetapi barang siapa menyembah Allah, maka Allah tetap hidup dan tidak akan mati.”

Kematian Nabi ﷺ adalah musibah terbesar umat Islam. Akan tetapi, beliau meninggalkan warisan yang abadi: al-Qur’an dan sunnah, sebagai cahaya penuntun di tengah kegelapan dunia.

Kini, lebih dari 1400 tahun telah berlalu sejak hari pilu itu. Namun, setiap kali kita mengingatnya, seakan-akan luka itu kembali menganga: bagaimana mungkin umat ini bisa hidup tanpa bimbingan langsung dari sosok yang paling mulia?

Namun, wahai saudaraku…
Rasulullah ﷺ memang telah wafat, tetapi sunnahnya tetap hidup. Cinta sejati kepada beliau bukan hanya dengan air mata, melainkan dengan ketaatan dan kesetiaan pada risalahnya.

Mari kita jadikan setiap detak jantung sebagai saksi cinta, setiap amal sebagai bukti rindu, dan setiap doa sebagai janji untuk bertemu beliau kelak di surga, bersama Ar-Rafīq al-A‘lā yang beliau rindukan. 

Berikut ini rangkumannya:

JAWABAN ILMIAH SOAL HUDUD YANG SERING DIPUTARBALIKKAN

Pembentang materi: Shahibus Samahah Dato Dr. MAZA - Mufti Kearajaan Negeri Perlis

Hudud sering menjadi bahan tuduhan kejam terhadap syariat Islam. Media Barat menggambarkannya sebagai hukum yang barbar: potong tangan pencuri, rajam pezina, pancung orang murtad. Sayangnya, sebagian umat Islam sendiri ikut mempercayai narasi ini sehingga muncul ketakutan seolah-olah negara Islam adalah negara yang penuh darah.



Padahal, hudud dalam Islam bukan sekadar hukuman fisik, melainkan batasan hukum Allah untuk menjaga lima hal pokok: agama, jiwa, akal, harta, dan kehormatan. Syariat Islam tidak pernah dimaksudkan untuk menindas, melainkan untuk melindungi masyarakat. Bahkan, sejarah menunjukkan hudud sangat jarang diterapkan karena syaratnya begitu ketat — fungsi utamanya adalah pencegahan (deterrent), bukan teror.

🌺 Menuduh hudud sebagai sadis sama saja dengan menolak hukum Allah ﷻ. Padahal, di balik ketentuan ini terdapat hikmah besar: menjaga keamanan, menegakkan keadilan, dan melindungi hak-hak manusia. Dunia modern pun memiliki hukuman berat seperti kursi listrik, suntikan mati, atau penjara seumur hidup, namun tidak pernah disebut barbar. Mengapa hukum Allah justru dicap demikian?

Hudud bukanlah wajah kejam Islam, melainkan cerminan keadilan dan rahmat jika dipahami secara benar. Tugas kita sebagai umat adalah kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, meluruskan kesalahpahaman, dan menegakkan syariat dengan penuh hikmah. ✨

Semoga Allah ﷻ memberi kita pemahaman yang benar, menjaga kita dari fitnah tuduhan miring terhadap Islam, dan meneguhkan umat di atas jalan kebenaran. آمين يا رب العالمين

Berikut rangkumannya: